Menikah

menikah

“Saya terima nikahnya dan kawinnya, ………., dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!!”

“Sah?” ….. “Sah, sah, sah, Alhamdulillah… Barakallah…”… dan riuh para hadirin memenuhi seluruh sudut ruangan. Bersyukur, merapalkan doa, dan mengaminkan doa-doa yang dilantunkan oleh seorang penghulu tepat setelah saya membacakan ijab kabul, menandakan kini saya resmi menjadi seorang suami sekaligus imam atau pemimpin untuk seorang istri dan sebuah calon keluarga yang baru terbentuk.

***

Hari itu, Minggu pagi tanggal 2 Desember 2012, dalam sebuah gedung di Pusat Jakarta, aku duduk pada sebuah kursi di depan seorang penghulu dan ayahmu. Serangkaian upacara yang dilakukan untuk membuka sebuah prosesi akad nikah telah dilakukan oleh kedua pihak keluarga. Selama itu pula aku duduk dengan diam yang tak biasa. Keringat dingin menari-nari dalam tubuhku yang mengenakan beskap menemani irama kegugupan yang terus menggelayuti pikiranku. Kepalaku terus menunduk, entah untuk melihat apa.

Sampai akhirnya, dirimu memasuki ruangan didampingi oleh ibuku dan ibumu. Detak jantung kurasakan semakin cepat, entah berapa BPM jantung itu berdetak. Sekilas kucuri pandang kepada dirimu. “Subhanallah!!, apa aku sedang bermimpi? Seorang bidadari turun dari kahyangan menghampiriku, khusus buatku…” begitulah kira-kira dialog yang ada dalam pikiranku. Berbalut kebaya putih bermotif hitam, kau tampak lebih anggun dan cantik dari biasanya. Meskipun, di hari-hari biasa dirimu sudah cukup anggun dan cantik, sungguh, aku sedang tidak menggombal.

Langkahmu semakin dekat ke arahku, dalam senyummu yang kulihat seakan kau berkata siap menjadi pendamping untukku dalam sedih-bahagia, sehidup-semati. Aku yang masih duduk tertunduk, tak sanggup menatap lekat pada dirimu, hanya mencuri pandang itupun hanya sesekali. Ada perasaan bahagia dan haru yang tercampur hingga tak bisa kuungkapkan dengan rangkaian kata.

Kau pun duduk tepat di sebelahku. Sempat ku cubit kecil punggung tanganku, ternyata ini bukan mimpi. Menatapmu dari dekat, kamu terlihat berkali lipat lebih cantik dari biasanya, sungguh, lagi-lagi aku sedang tidak menggombal. Bukan karena kebaya putih bermotif hitam yang kau kenakan, bukan pula karena karena senyum yang kamu berikan untukku, tetapi karena perasaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Karena perasaan itu pula yang membuatku gugup hingga aku lupa tersenyum.

Sang penghulu memulai dengan memimpin membaca istighfar, doa-doa dirapalkan semoga Ijab Qabul yang akan dilaksanakan berjalan lancar tanpa ada hambatan. Microphone pindah ke tanganmu, kamu mengucapkan permintaan kepada ayahmu untuk diperkenankan menikah denganku. Semakin tak karuan saja perasaanku ini. Kau memohon izin untuk melepaskan tanggung jawab orang tuamu dan menyerahkan diri kepada seorang pria yang masa depannya kau sendiri tidak tahu. Modalmu hanya satu, keyakinanmu bahwa aku akan membahagiakanmu, lebih tepatnya berusaha untuk membahagiakanmu.

Dan saat yang ditunggu pun tiba, kini giliranku yang memegang mic. Aku bukanlah seorang yang terbiasa berorasi dan berpidato, hingga semakin terlihat canggunglah diriku memegang mic itu. Ternyata, Pak Penghulu bisa menangkap arti dari gejala-gejala dari gerak tubuhku, hingga menyarankan untuk berlatih mengucapkan lafadz ijab qabul.

“Ananda Muammar Fauzy bin Prijatno, Bapak nikahkan dan kawinkan anak bapak yang bernama Miranti Kurniasih binti Samidi kepada ananda dengan mas kawinnya…..” selesai ayahmu berkata, pak penghulu segera menepuk punggung tanganku. Dan dalam satu tarikan nafas…“Saya terima nikahnya dan kawinnya, Miranti Kurniasih binti Samidi, dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!!”

“Sah?..” Pak penghulu bertanya kepada dua orang saksi di depanku yang tak lain adalah seorang kakak dari ibumu dan seorang adik dari kakekku. Mereka pun dengan serempak menjawab “sah..”

Aku mendengar ruangan penuh dengan riuh suara para hadirin. Namun tidak dengan perasaanku yang sedari tadi gugup. Hening sepersekian detik kurasakan. Kutatap wajahmu saat itu, diantara senyum yang kau pancarkan, titik air menggenang di ujung matamu. Kita saling bertatap dalam diam, namun aku yakin kedua hati kita saat itu saling bicara.

Dari pancaran matamu, kau berkata “telah kuserahkan diriku padamu suamiku…” Dan dari tatapan mataku, aku berkata “Ya, aku menjawab keyakinanmu bahwa aku akan terus berusaha untuk terus membahagiakanmu, membimbingmu, menjadi imam bagimu…”

***

Dan sebuah lembaran baru kehidupan telah terbuka, kali ini biar kita berdua yang mengisinya…

Perihal muamdisini
hanya manusia biasa yang mencoba menggapai mimpi dan melawan segala keterbatasan dengan segenap kemampuan yang dimilikinya

27 Responses to Menikah

  1. Agung Rangga mengatakan:

    Wah, apa kabar kak muam?😀
    Selamat ya atas pernikahannya~ Semoga langgeng~🙂

Sedikit komentar dari anda, sangat berarti bagi saya ....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: