Dear Pahlawanku – Untuk Sang Pahlawan Devisa

sumber gambar: ngapak.com

Kepada para pahlawanku yang berada di seberang negeri sana…

Desamu masih seperti yang dahulu pahlawanku. Hamparan sawah luas bermandikan cahaya matahari pagi dan pematangnya yang masih menyisakan titik-titik embun. Padi-padi menguning siap untuk dipanen, serta kebun-kebun singkong yang pohonnya semakin meninggi. Namun, dibalik pagar pepohonan itu ada sedikit yang berubah…

Rumah-rumah dibalik pagar bambu itu kini telah dihiasi dengan keramik berwarna. Ah, aku kurang tahu merknya, yang aku tahu rumah-rumah itu kini makin cantik dan berwarna. Motor-motor baru juga kini hampir terparkir di pekarangan masing-masing rumah. Sepertinya keluargamu di tak perlu lagi susah memikirkan bagaimana membawa padi dan sayur mayur ke kota pahlawanku…

Kamu tahu kan, itu semua berkat kerja kerasmu pahlawanku. Kerja keras yang kamu lakukan selama ini mengumpulkan pundi-pundi devisa untuk dijadikan rupiah sebagai bekal hidup keluarga di desamu…

Pahlawan devisaku, aku masih mengingat ketika kamu berniat meninggalkan negeri ini untuk merantau ke negeri antah-berantah demi menghidupi keluargamu. “susah mencari kerja di sini” begitu katamu ketika kamu benar-benar membulatkan niatmu. Yah aku mengerti, mencari kerja di negerimu sendiri ini memang bukanlah perkara mudah.

Pahlawan devisaku, bukankah kamu telah mengerti sendiri bagaimana risiko yang akan kamu hadapi di negeri antah berantah nanti? Tapi kamu tetap mengabaikan semua, niatmu benar-benar sudah bulat rupanya.

Aku masih ingat ketika aku dan bapakmu beserta keluargamu mengantarkan dirimu ke sebuah tempat dengan papan kayu di depannya bertuliskan “Penyalur Tenaga Kerja Indonesia” bertengger di depan pintu. Tempat yang disebut penampungan itu justru bagiku seperti barak. Ah, dulu aku tak habis pikir, bagaimana kamu rela membayar jutaan rupiah yang kamu cari dengan pinjam sana-sini untuk ditampung di tempat seperti ini. Dulu aku masih begitu khawatir, apakah uang jutaan rupiah itu memang benar-benar untuk biayamu menuju negeri antah berantah tempatmu bekerja nanti atau hanya sekadar tipuan para oknum…

sumber gambar: soloposfm.com

Pahlawanku, aku masih khawatir padamu. Masih di dalam negerimu sendiri kamu sudah menanggung banyak risiko.

Beberapa bulan setelah itu, akhirnya kamu sempat memberi kabar kepada keluargamu. Telepon pertama darimu yang ditujukan untuk bapakmu bahwa keadaanmu baik. Ah, bahagianya kamu menjadi salah satu dari sekian banyak Pahlawan Devisa yang beruntung.

Kamu tahu kan? Keluargamu menyaksikan berita di media-media bahwa banyak darimu yang kurang beruntung di negeri antah berantah sana. Mulai dari penyiksaan, penganiayaan, tidak dibayar, hingga putus komunikasi. Tapi dirimu, meskipun berbulan-bulan tiada kabar, kamu masih sempat mengabari kami. Pundi-pundi devisa darimu pun mulai kami terima. Terima kasih pahlawanku..

Beberapa bulan kemudian, kamu mendapatkan kesempatan untuk pulang bertemu keluargamu di tanah air. Aku sungguh bahagia melihatmu memeluk bapakmu di bandara. Tangis bahagia darimu, membuktikan bahwa niatmu berhasil kamu wujudkan. Tak beberapa lama, kamu kembali lagi ke negeri antah berantah itu…

Beberapa bulan kemudian, kami mendapati dirimu pulang dengan kondisi yang bisa dikatakan kurang beruntung. Kamu bercerita bahwa dirimu berhasil kabur dengan menyeberang pulau tanpa rupiah sepeser pun karena tak tahan dengan siksaan yang diberikan oleh majikanmu. Menelusuri Sumatera menyeberang Kapal Very ke Jawa, sampai akhirnya menumpang truk sampai Jakarta….

Ah, pahlawan devisaku.. begitu sedih aku mendengar cerita keluhanmu. Namun aku bersyukur, kamu masih beruntung dibandingkan dengan kawanmu yang pulang hanya tinggal jasad tak bernyawa. Kamu tahu kan? Beberapa dari kawanmu kurang beruntung di negeri antah berantah sana. Mereka harus menghadapi segala macam persoalan mulai dari perkosaan, penganiayaan, hingga hukuman yang diberikan oleh penegak hukum di negeri antah berantah sana…

Tanggal 10 November adalah hari peringatan untuk pahlawan. “Mereka” yang duduk di parlemen masih sibuk menentukan siapa yang berhak diberikan gelar pahlawan, namun aku tak pernah melihat salah satu dari kamu atau kawan-kawanmu masuk dalam daftarnya. Ah, biarlah, toh bagi kami kamu dan kawan-kawanmu adalah pahlawan bagi negeri ini. Secara tidak langsung justru kalian telah berperan secara nyata dalam membangun negeri. Kalian membuktikan tanpa banyak bicara, namun dengan jerih payah dan kerja keras…

Pahlawan devisaku, di luar sana masih banyak kawan-kawanmu yang masih berjuang mengumpulkan devisa bagi keluarganya. Kita doakan semoga semua seberuntung dirimu yah pahlawanku, kembali ke tanah air dengan keadaan sehat wal afiat tanpa kekurangan sedikit apapun dari tubuhnya…

Aku berharap kamu dan kawan-kawanmu sebagai pahlawan devisa sekembalinya ke tanah air bisa menikmati hasil jerih payah kalian selama di negeri antah berantah. Kamu dan kawan-kawanmu bisa menikmati desamu yang makin cantik pahlawan devisaku….

“Postingan ini diikutsertakan dalam Kontes Dear Pahlawanku yang diselenggarakan oleh Lozz, Iyha dan Puteri

Sponsored by :

Perihal muamdisini
hanya manusia biasa yang mencoba menggapai mimpi dan melawan segala keterbatasan dengan segenap kemampuan yang dimilikinya

33 Responses to Dear Pahlawanku – Untuk Sang Pahlawan Devisa

  1. heri mengatakan:

    tapi ada juga yang beruntung di luar sana,,, macam macam nasib mereka

  2. Nchie mengatakan:

    Selamet ya Muam..
    Layak jadi pemenang,2 jempool..

    Suka miris kalo lihat di TV tentang mereka..
    Semoga Pahlawan devisa selalu di lindungiNya dan oleh Pemerintah..

Sedikit komentar dari anda, sangat berarti bagi saya ....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: