Themilo: kegalauan yang membuat tersenyum

Light s Low, Volume High, Fantasizing

Salah satu kelemahan tinggal di luar Pulau Jawa adalah dalam hal musik. Kelemahan yang saya maksud disini adalah pilihan alternatif ketika ingin hadir ke gigs indie lokal atau ketika ingin membeli merchandise dari band indie lokal. Alhasil, saya harus puas menikmati dan mengamati perkembangan musik dari dunia maya. Jika ingin melihat performance mereka cari di Youtube, ingin punya merchindise dan albumnya, cari di toko online. Entah kenapa, dari dulu saya kurang begitu tertarik dengan perkembangan musik yang sering ditayangkan di tivi, mulai dari band melayu “menye-menye” sampai kumpulan “cowok” atau “cewek” berjoged-joged sambil nyanyi.

Diantara band indie lokal, ada satu yang saat ini sedang saya nikmati. Sebuah kelompok asal Bandung yang membawakan musik beraliran shoegaze yaitu Themilo (dulu ditulis The Milo). Setelah 7 tahun semenjak album pertama mereka rilis akhirnya mengerluarkan album kembali yang mereka namakan photograph. Sebelumnya, beberapa materi dari album yang baru telah beredar di dunia maya. Sebenarnya saya mengenal band ini sudah bertahun yang lalu, hingga membuat saya penasaran dan sebelum lebaran kemarin, saya membeli album mereka yang baru “Photograph” secara online.

Album “photograph” yang sebenarnya dirilis Februari 2011 kemarin akhirnya baru bisa berada di tangan saya pada Agustus 2011. Kesan simple dan tidak biasa langsung terasa di cover album tersebut. Tidak biasa karena ternyata melibatkan Astronautboys , seorang street artist, dalam membuat artwork cover tersebut. Di dalamnya pun hanya berisikan review singkat dari Adib Hidayat dan sebuah foto mereka yang pada album ini terdiri dari Ajie Gergaji (gitar dan vokal), Upik (gitar), Suki (bass), Hendi Unyil (keyboards, synthesizers) dan Budi Cilsen (drum).

Mulai mendengarkan satu persatu list lagu mereka pada album tersebut, sesuai dengan namanya kita seperti dibawa melihat potret kehidupan dari berbagai macam sudut pandang. List lagu mereka adalah:

1. Stetoschope

Raungan nada distorsi tanpa lirik memang pantas menjadi pembuka pada album ini.

2. For all the dreams that wings could fly

Kerjasama yang apik antara Ajie dengan dibantu oleh Maradilla Syahridar pada vokal di lagu ini membuat kita dibat melayang. Mendengarkan lagu ini sebaiknya dengan lampu temaram dan mata terpejam.

the river of feels, the call of your voices, it’s inside of me…

The shine of your eyes, the call of your touch, you’re inside of me..

3. So regret

Sebuah lagu menceritakan perpisahan dan penyesalan. Kelam dan gelap..

do you remember when you strong, do you remember we laugh together, now God call you to come  back home..

4. Get into your mind

Mendengarkannnya membuat kita seperti melayang-layang, dengan atmosfer gelap..khas themilo

Now you’re hearning us… now you’re in harmony… you have to believe to what you’vegot…

5. Dreams

Walapupun terdengar “agak” lebih ngebeat, tetap tidak menutup kegalauan ala Themilo

This moment I’m alone… there’s no company… but I’m still happy… with my guitar sing along…

6. Don’t worry for being alone

Ini adalah salah satu materi yang telah lama beredar sebelum album “photograph” dirilis. Ah, saya selalu bisa dibuat tersenyum ketika mendengarkan intro dari lagu ini. Vokal Ajie yang datar, lirik yang simple,  dibalut dengan suara gitar yang renyah dengan tempo yang tak terlalu cepat namun juga tak bisa disebut lambat cukup membuat kenyang telinga saya.

Lights guide you through the emptiness… there’s something you can found… in the dark..

7. Daun dan ranting menuju surga

Ini juga merupakan salah satu materi yang telah lama beredar sebelum album dirilis. Satu-satunya track berbahasa Indonesia dari 8 lagu pada album ini. Ah, lagi-lagi saya selalu seperti dibuat mematung jika mendengarkan lagu ini. Mereka sangat cerdas dalam membuat lirik…

Hadapi hidup yang remuk hapus semua kenangan yang kelam, semua nyata hati pun terluka…

…semua t’lah usai tak terbayang, celoteh gagak terdengar…daun dan ranting menuju surga….

8. Apart

Pilihan lagu ini sebagai track penutup pada lagu ini adalah pilihan yang cerdas. Saya menyebutnya sebagai lagu cinta khas themilo, tak mendayu dan cengeng. Entah betul atau tidak, di awal lagu ini saya seperti mendengar track dari Slowdive, band shoegaze dari Inggris. Namun pada akhir lagu ini ditutup oleh derai suara dari Grace Sahertian, unsur etnik lebih terasa pada momen ini.

she speaks, she talks, she lies, her lies changing everything, my body and my soul, my sickness and my weakness, all together now, blended in one sadness..

Seperti yang mereka sebutkan, mendengarkan album mereka lebih cocok dinikmati dengan mantra Light s Low, Volume High, Fantasizing. Maka diantara atmosfer kegalauan yang diciptakan themilo tiba-tiba saja kita bisa dibuat tersenyum. Amazing…

Perihal muamdisini
hanya manusia biasa yang mencoba menggapai mimpi dan melawan segala keterbatasan dengan segenap kemampuan yang dimilikinya

30 Responses to Themilo: kegalauan yang membuat tersenyum

  1. adiekeputran mengatakan:

    oh penggemar band indie..kirain karena trend sekarang lipsinc dan nari sambil nyanyi jadi ikutan suka..hehehe
    ane sih suka semua musik asal enak didengar,,hehehe

Sedikit komentar dari anda, sangat berarti bagi saya ....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: