Mahasiswa, dimana intelektualitasmu kini?

Kata-kata MAHASISWA yang dulu berkonotasi positif kini perlahan berubah menjadi negatif. Masyarakat yang dulu menganggap mahasiswa sebagai “agent of change” yang membawa perubahan bangsa ke arah yang lebih baik sekarang sudah mulai bergeser. Kini mahasiswa identik dengan pembawa terror, biang kerusuhan, pengusung kekerasan atau apalah lainnya yang intinya citra dari status dan kedudukan mahasiswa di mata masyarakat sudah sebegitu buruk. Mengapa bisa sampai demikian?.

Pergerakan mahasiswa yang mengatasnamakan rakyat semakin lama semakin berubah fungsi. Sebelumnya tujuan pergerakan ini adalah membawa aspirasi rakyat untuk bisa dijadikan pertimbangan pemerintah dalam memutuskan suatu kebijakan. Sebenarnya disini pencitraan sebagai mahasiswa masih baik karena mahasiswa dianggap sebagai “corong” dari suara rakyat. Tetapi, entah karena volume corong itu terlalu besar atau karena bentuknya yang berubah, fungsi dari pergerakan itu juga berubah. Pergerakan tersebut tak lagi murni menyampaikan aspirasi rakyat tapi lebih bermuatan politik. Latar belakang yang mendasari adanya sebuah pergerakan pun menjadi bermacam-macam. Sekedar cari sensasi, numpang tenar, atau bahkan bisa menjadi kendaraan yang efektif untuk berkampanye.

Hal ini lebih diperparah lagi dengan adanya “chaos” dari hampir setiap gerakan yang dilakukan mahasiswa. Penyampaian aspirasi yang dilakukan sering berujung pada pengrusakan fasilitas umum. Padahal di tengah krisis yang semakin mendera, rakyat sangat membutuhkan apa yang dinamakan fasilitas umum tersebut. Kalau semua sudah hancur, siapa yang bertanggung jawab?. Imbas yang paling besar memang dirasakan oleh rakyat sebagai pengguna. Lalu, apakah ini yang dinamakan pembelaan terhadap hak rakyat?.

Selanjutnya berita kekerasan dari sekolah kedinasan (yang berbau militer tentunya) tak henti-hentinya bermunculan. Di tengah mahalnya pendidikan dan susahnya mencari lapangan pekerjaan, sekolah kedinasan merupakan alternative pilihan jawaban. Namun, sistem senioritas di dalamnya seakan berubah menjadi mimpi buruk. Sekolah tinggi yang seharusnya menjadi pencetak tenaga handal dalam lembaga-lembaga pemerintahan seperti berubah menjadi camp penyiksaan. Perputaran generasi dalam sekolah-sekolah tinggi itu tak mampu menghapus sistem senioritas yang “over”. Apakah ini merupakan jalan untuk mendapatkan sebuah respect atau penghormatan dari adik kelas?. Kalau memang seperti itu, apa bedanya lembaga pendidikan dengan geng-geng preman?. Lalu, apakah seperti itu calon aparatur Negara yang diharapkan masyarakat?.

Kemudian, kabar kekerasan dari satu kampus dan kampus lainnya juga santer terdengar. Entah itu keributan antara satu kampus dengan kampus lainnya atau bahkan satu fakultas dengan fakutas lainnya dalam satu kampus hanya karena urusan sepele. Lalu, dimana landasan berpikir mahasiswa yang merupakan harapan bangsa?. Apakah fungsi lembaga pendidikan sudah bergeser menjadi pencetak preman dimasa depan?.

Jika kekerasan-kekerasan seperti itu masih terjadi, masih pantaskah kita menyandang gelar “MAHASISWA”?. Masihkah kita punya malu untuk menyebut kita sebagai pahlawan?. Dimana kesan intelektualitas dari mahasiswa itu sendiri?. Sebegitu dalamnyakah setan merasuk sehingga dari mahasiswa yang seharusnya lahir pemikiran-pemikiran baru dan segar malah muncul kehancuran?. Lalu, kapan bangsa ini bisa bangkit dari keterpurukan kalau tak ada generasi yang bisa diharapkan?. Masih banyak pertanyaan lainnya dan yang sanggup menjawabnya ya mahasiswa itu sendri. Semoga mahasiswa bisa bisa merubah bangsa ini menjadi sebuah bangsa yang lebih arif dan bijaksana…

Perihal muamdisini
hanya manusia biasa yang mencoba menggapai mimpi dan melawan segala keterbatasan dengan segenap kemampuan yang dimilikinya

Sedikit komentar dari anda, sangat berarti bagi saya ....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: