memaknai makna "cinta"

Setiap bulan Februari sebagian orang banyak yang melakukan euforia cinta. Disana-sini kata-kata cinta disebar, simbol-simbol cinta seperti mawar, hati dan coklat, entah siapa yang memulai, bertebaran dimana-mana. Namun siapa yang sangka euforia atas cinta seperti itu merupakan penyempitan makna cinta yang sebenarnya. Cinta menjadi tak lebih dari sebuah retorika kata untuk mengugkapkan perasaan kepada lawan jenis (atau mungkin sesama jenis?!). Inti dari cinta disini hanyalah sebagai pemuas nafsu, atau bisa dibilang sekedar cara kita untuk menunjukkan nafsu kita.

Disadari atau tidak, makna cinta sekarang ini telah mangalami sebuah penyempitan makna yang sangaaaaat dangkal. Mari kita coba telaah makna kata cinta dalam arti yang sebenarnya.

Pada dasarnya cinta itu sendiri merupakan sumber energi dan sumber kebaikan, oleh karena itu cinta itu sendiri bisa menimbulkan dampak yang positif. Melaui cinta, daya imajinasi dan kreativitas kita bisa tiba-tiba muncul tanpa disadari. Dengan cinta, kita bisa tiba-tiba memiliki letupan semangat dalam menjalani hidup.

Namun cinta seperti apa yang memiliki dampak positif seperti itu?

Yaitu cinta yang muncul bukan dari nafsu, tetapi dari ketulusan hati kita. Cinta yang kemudian berubah menjadi energi untuk memberi dan mengasihi sesama. Akhirnya timbul hubungan cinta dengan cara becoming, bentuk hubungannya seperti you & I, yang pada akhirnya memanusiakan manusia. Saling melindungi dan menjaga adal buah dari cita iu sendiri.

Sekarang, kita coba lihat makna cinta saat ini. Cinta sekarang cenderung berlebihan, bukan pada kebaikannya, melainkan keburukannya. Makna Cinta itu sendiri diartikan lebih kepada posesif, berdasarkan jerat nafsu yang mengikat. Cinta dianggap untuk memiliki dan kemudian timbul hubungan cinta dengan cara being bentuk hubungannya pun tak lebih dari it & I. Orang yang (mungkin) kita cintai dijadikan tak lebih dari objek, bukan subjek. Akhirnya orang bisa menghalalkan segala cara hanya sekedar untuk ”memiliki” apa yang namanya cinta.

Sekarang ini tergantung kita mau memaknai cinta itu sendiri, apakah kita ingin memaknai cinta secara sempit, atau kita buka lebar-lebar makna cinta sebenarnya. Tetapi lagi-lagi semua ada konsekuensinya. Apakah kita ingin dicintai untuk “menjadi” atau kita dicintai untuk “dimiliki”. Semuanya terserah anda…

Perihal muamdisini
hanya manusia biasa yang mencoba menggapai mimpi dan melawan segala keterbatasan dengan segenap kemampuan yang dimilikinya

Sedikit komentar dari anda, sangat berarti bagi saya ....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: