percakapan hati saat menuju ke utara – sebuah cerpen

Aku masih berada di pedistrian jalan protokol pusat kota, menjejakkan kaki melangkahkan diri menuju ke utara. Kulihat jam di tanganku, waktu telah menunjukkan pukul 12.30 malam atau lebih tepatnya dini hari. Memang, masih terlalu dini juga untuk berjalan-jalan menikmati suasana kota. Tetapi tujuanku bukan untuk itu.

Tetesan air masih berangsur-angsur menyentuh kulitku, sisa hujan beberapa saat yang lalu. Beberapa sudut jalan juga masih digenangi air. Kendaraan yang masih jarang hilir-mudik juga membuat suasana semakin lengang. Kuning temaram lampu jalan yang sesekali kulewati membuat suasana semakin redup. Jarang sekali aku bisa menikmati suasana seperti ini di ibukota.

Aku masih berada di pedistrian jalan protokol pusat kota, menjejakkan kaki melangkahkan diri menuju ke utara. Kemarin masih kuingat, saat aku berjalan mengenakan kemeja “Versace”, celana “Dolce&Gabana”, dan sepatu “Gucci“, serta jam tangan “Rolex” yang melingkar di pergelangan tangan, banyak yang menaruh hormat padaku. Kini, aku berjalan dengan sendal jepit “swallow” abal, celana jeans “Levi Strauss” yang sudah kumal dan robek disana-sini juga abal-abal, kaus putih oblong, dan jaket berbahan sweater lusuh tanpa merek, siapa yang mau memperdulikanku? Bahkan, mungkin mereka mengira aku gembel.

Memang, sekarang ini banyak yang memandang orang lain hanya dari segi penampilan fisik. Jika kita berpakaian necis, semua serba bermerek, menggunakan mobil mewah dan memiliki rumah layaknya istana, orang-orang dengan sendirinya akan mendekat. Entah menaruh kagum atau sekedar memberikan appreciate. Mereka tak perduli darimana semua itu didapat. Meskipun semua itu didapat dari hasil menjarah harta mereka, toh mereka juga tidak tahu, dan tak pernah mau tahu. Aku pun pernah merasakannya. Merasakan kemewahan di atas penderitaan mereka. Tetapi, hatiku berontak, teriak, hingga memekakkan telinga sanubari. Aku meninggalkannya.

Masih di pedistrian jalan protokol di pusat kota, dengan sisa-sisa air hujan yang masih menggenang di beberapa tempat. Aku membelokkan lengkahku ke arah timur, menuju sebuh taman kota. Beberapa sat kemudian aku sudah terduduk tenang di sebuah bangku taman yang masih basah oleh sisa-sisa tetesan air hujan tadi. Ku lihat jam di tanganku, hmm,, aku tersenyum. Sudah bukan “Rolex” lagi, pikirku, tapi setidaknya masih bisa menunjukkan bahwa saat ini masih pukul 1.00 dini hari.

Kemudian kunyalakan sebatang mild yang sedari tadi menyelinap di saku celanaku. Ku hisap dalam-dalam, kunikmati, lalu kuhembuskan kembali keluar memenuhi ruang sekitarku asap yang tadi sempat berputar dalam paru-paru. Aku pikir Perda tentang larangan merokok di tempat umum sudah tak berlaku lagi pada dini hari seperti ini. Lagipula, kenyakan peraturan itu seperti hangat-hangat feces. Ya. Hangat-hangat saat baru keluar, kemudian diperbincangkan, dipatuhi, sekaligus dilupakan.

Asap masih mengepul di sekitarku. Kusandarkan diriku di bangku taman yang masih basah oleh sisa-sisa tetesan air hujan tadi. Aku memandangi gedung-gedung di sekitar yang pada dini hari ini terlihat seperti bayangan keangkuhan yang siap mencakar langit yang sedang mendung. Lambang keangkuhan kota. Beberapa lampu di sana sudah padam, menandakan aktivitas di sana berhenti untuk sementara. Tetapi, kukira orang-orang di sana belum berhenti beraktivitas. Mereka hanya berpindah tempat. Aku rasa, mereka kini menjalankan aktivitasnya di dalam pub-pub atau diskotek-diskotek yang tersebar di kota ini. Menghabiskan uang mereka untuk kesenangan semu. Hmm,, tapi dunia ini juga semu. Mungkin mereka ingin menikmati kesemuan ini, kesementaraan ini, begitu pikirku.

Masih di bangku taman yang masih basah oleh sisa-sisa tetesan air hujan tadi. Aku memandangi keadaan sekitar taman kota. Sepi. Biasanya disini terdapat beberapa pasang manusia yang sedang bercinta, baik oleh pasangannya sendiri maupun oleh wanita penjaja cinta. Mungkin karena tadi kota ini sempat diguyur hujan sehingga menyebabkan tanah di taman kota ini basah tergenang, meeka enggan untuk datang. Aku menatap jam tanganku, sudah pukul 2.00 dini hari. Tak bisa kubuang waktuku lagi, pikirku. Perjalanan masih belum selesai. Segera kumatikan mild di tanganku, kemudian beranjak pergi.

Kembali berada di pedistrian jalan protokol di pusat kota, masih menuju ke utara. Genangan sisa air hujan tadi di beberapa tempat sudah mulai berkurang. Di jalan, hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu-lalang. Ku hirup napas dalam-dalam. Bau tanah yang basah memenuhi rongga hidungku, masuk ke paru-paru, kemudian mengisi alam bawah sadarku.

Adzan subuh telah berkumandang. Kini, kakiku telah berpijak pada hamparan pasir di tepian pantai. Aku melihat ke utara. Dalam keemangan pagi buta aku bisa melihat lautan luas, berbatasan dengan langit yang masih gelap di ujung garis cakrawala. Kemudian aku terduduk. Diam diatas butiran-butiran pasir. Apakah ini akhir dari perjalanan?, pikirku. Laut yang terbentang di depanku hanya Laut Jawa yang tak lebih luas dari Samudera Hindia atau Samudera Pasifik. Aku mampu menyeberanginya.

Untuk beberapa saat aku berpikir, apa tujuanku ke utara? Bukankah utara itu hanya salah satu dari arah mata angin yang terdapat dalam kompas? Masih ada arah mata angin lainnya, bukan? Barat, Timur, Selatan. Mengapa kau tak memilih salah satunya? Berbagai pertanyaan kemudian terus memenuhi benakku. Aku berbaring. Lama aku memandang ke arah vertikal di atasku, langit ppagi yang sudah mulai menunjukkan sinar kemerahannya dai ufuk timur.

Akhirnya pikiranku berbicara, hidup itu bukanlah menuju ke segaa penjuuru arah mata angin. Ke Utara, Barat, Selatan, Timur, kemana saja kau pijakkan kakimu, kau tetap sama. Tak ada yang berbeda. Yang berbeda hanya tempat pijakkan kakimu. Bukan dirimu. Yang perlu kau lakukan untuk merubah dirimu adalah meningkatkan kualitas dirimu, bukan kualitas fisik, bukan kuantitas materi. Arah mata angin itu hanya menunjukkan ke mana kau seharusnya melangkah untuk mendapatkan itu semua, untuk melatih kepekaan dirimu. Arah mata angin itu akan membantumu menunjukkan dimana kau seharusnya berpijak,kemudian kau aplikasikan semua kemampuan yang ada dalam dirimu untk mendapatkan sebuah kemampuan baru dari dirimu yang dapat kau aplikasikan di tempat lain dengan bantuan arah mata angin itu. Jika semua itu telah kau lakukan, maka dirimu naik ke arah vertikal. Terus dan terus naik sampai akhirnya kau mampu mendapatkan pandangan yang lebih jelas dan lebih luas dibandingkan dengan yang orang lain miliki.

Kemudian kupejamkan mataku sambil berbaring. Kelopak mataku sudah terbalut rasa kantuk yang sangat dalam. Kunikmati nyanyian dari desiran ombak di pagi hari. Aku ingin memulai hari baru, hidup baru, dari sini. Dari sebuah tempat di utara kota. Setelah ini akan kubiarkan diri ini berlari…
m(u_m)u…am


Bintaro, 19 November 2007
04.45

inspired songs :
  • zeke and the popo – 1.1 million woodcutter
  • zeke and the popo – unrescued world
  • pure saturday – di bangku taman
  • pure saturday – kosong

Perihal muamdisini
hanya manusia biasa yang mencoba menggapai mimpi dan melawan segala keterbatasan dengan segenap kemampuan yang dimilikinya

Sedikit komentar dari anda, sangat berarti bagi saya ....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: