eksistensi

Sebenarnya apa yang mendasari seorang manusia melakukan sesuatu dalam hidupnya? Eksistensi. Ya, saya kira semua yang dilakukan oleh manusia itu adalah untuk menunjukkan ke-eksistensi-an atau keberadaan dirinya terhadap manusia lain. Memang sudah kodratnya, manusia selain merupakan makhluk individu juga diciptakan sebagai makhluk sosial. Jadi, seberapa pun individualisnya seseorang, ia akan melakukan sesuatu untuk menunjukkan eksistensi dirinya terhadap individu lain.

Namun, yang menjadi persmasalahan sekarang ialah bagaimana cara seseorang itu menunjukkan eksistensinya. Banyak memang yang bisa dilakukan oleh manusia untuk menunjukkan eksistensinya. Bisa melalui jalan positif maupun negatif. Bisa dengan menggunakan cara-cara yang biasa dipakai oleh khalayak umum bisa juga dengan menggunakan cara-cara yang ekstrim dan diluar kebiasaan manusia pada umumnya. Disini, yang menentukan baik buruknya, positif negatifnya cara-cara yang dipakai adalah masing-masing individu itu sendiri.

Ada orang-orang yang menunjukkan bakat-bakatnya dengan melukis, bermusik, merupa, menulis, berakting, dan sebagainya untuk menunjukkan eksistensi dirinya. Begitu pula mereka yang berkumpul, kemudian membuat geng. Adapun cara-cara yang dilakukan oleh para perkumpulan itu atau geng-geng itu merupakan tindak kekerasan atau bukan merupakan cara mereka untuk menunjukkan eksistensi mereka, keberadaan mereka, untuk kemudian pengakuan dari masyarakat bahwa mereka ada. Bahkan, bunuh diri mungkin juga merupakan cara untuk menunjukkan eksistensi diri seseorang pada dunia. Ya, dunia yang telah membuat kebosanan hidup dari orang tersebut telah mencapai titik nadir.

Tetapi, sekali lagi, semua itu pilihan. Tergantung dari individu-individu manusia itu sendiri. Hidup itu sebuah pilihan. Sekarang kita yang menentukan. Lalu, bagaimana jika kita enggan menunjukkan eksistensi kita pada dunia? Atau setidaknya pada orang yang berada di sebelah kita. Mungkinkah kita hidup hanya sebagai seonggok daging yang telah dianugerahi otak yang volume untuk berpikirnya lebih besar dari volume untuk berpikir dari otak hewan? Ya, sekali lagi, semua itu pilihan.

Perihal muamdisini
hanya manusia biasa yang mencoba menggapai mimpi dan melawan segala keterbatasan dengan segenap kemampuan yang dimilikinya

Sedikit komentar dari anda, sangat berarti bagi saya ....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: