Tiga Titik Hitam
10 November 2011 18 Komentar

Ketika semua bayang menjauh dari tubuh dan ketika semua angan enggan menyapa
Terbaring aku, terjebak aku, di keheningan dalam ketiadaan….
(Burgerkill feat Fadly PADI – Tiga Titik Hitam)
Resonansi tiga titik hitam yang dibawakan Burgerkill dengan Fadly menghipnotis saya untuk membuat jari-jari saya menari-nari di atas tuts keyboard papan komputer jinjing saya. Saya sendiri masih bingung dengan ritual tengah malam seperti ini, entah untuk meracau atau hanya melepas energi penat yang tak tersalurkan untuk dibuang ke dalam sebuah tulisan. Yang saya sadari, akhir-akhir ini terlalu banyak pikiran berkecamuk di dalam otak.



Salah satu kelemahan tinggal di luar Pulau Jawa adalah dalam hal musik. Kelemahan yang saya maksud disini adalah pilihan alternatif ketika ingin hadir ke gigs indie lokal atau ketika ingin membeli merchandise dari band indie lokal. Alhasil, saya harus puas menikmati dan mengamati perkembangan musik dari dunia maya. Jika ingin melihat performance mereka cari di Youtube, ingin punya merchindise dan albumnya, cari di toko online. Entah kenapa, dari dulu saya kurang begitu tertarik dengan perkembangan musik yang sering ditayangkan di tivi, mulai dari band melayu “menye-menye” sampai kumpulan “cowok” atau “cewek” berjoged-joged sambil nyanyi.










Komentar Terakhir