Forget Jakarta…

I’m waiting in line to get to where you are… Hope floats up high along the way

I forget Jakarta…

All the friendly faces in disguise… This time, I’m closing down this fairytale

(Adhitia Sofyan – Forget Jakarta)

Lama sudah saya tak mengingat kejadian ini, tepatnya mungkin sudah lebih dari dua tahun yang lalu saat dibacakan pengumuman penempatan. Satu per satu dari kami, yang saat itu sedang menjalani masa diklat, dipanggil ke depan. Saat saya dan kawan saya dipanggil ke depan, saya pun sudah mengira kemana kami berdua akan ditempatkan. Dan benar saja, apa yang kami bayangkan akhirnya dibacakan… Kalimantan Timur, Kota Samarinda.

Kami berdua segera mengambil posisi untuk bersujud syukur, mengikuti kawan-kawan kami yang namanya dipanggil terlebih dahulu. Entah waktu itu saya masih belum mengerti, apa yang seharusnya kami syukuri. Kami hanya mengerti bahwa itu adalah pilihan kami, kota yang kami tulis dalam formulir penentuan tujuan penempatan.

Kini, saya menyadari bahwa sudah sepantasnya kami bersyukur. Seperti kawan narablog kita, Amel atau yang lebih dikenal dengan Nona Bau-bau. Jika saya mengeluh tentang masalah penempatan tugas, sudah sepantasnya saya malu dengan dia. Dengan postingan khasnya “Haruskah di Jakarta?”, Amel menyadarkanku kembali bahwa kami tak sendiri.

Saya yang ditempatkan di ibukota provinsi, meskipun bukan di Jakarta, sudah sepantasnya bersyukur karena masih banyak kawan-kawan seperti Amel yang masih harus merasakan berjuang di seluruh penjuru nusantara. Mereka berkutat dengan masing-masing kewajibannya untuk menjalankan amanah yang diberikan oleh negara. Mereka membiarkan rindu-rindu mereka ditanggalkan untuk sementara demi membuktikan janji mereka pada negara.

Indonesia itu luas. Bukan hanya di Jawa. Jadi dimanapun nantinya, semoga kalian bisa membuktikan apa yang telah kalian janjikan: siap di tempatkan di mana saja.

Seperti kata Amel, keikhlasan-lah yang membuat semua semakin terasa mudah. Kesulitan-kesulitan dalam kehidupan di awal penempatan adalah sebuah pembelajaran yang sangat berharga. Dan setiap kerinduan-kerinduan adalah sebuah proses menuju pendewasaan.

Jakarta, sebagai Ibukota negara, yang menjanjikan segala kelengkapan fasilitas di dalamnya memang menawarkan pesona. Namun, bukankah Indonesia itu luas? Bukan hanya Jakarta dan sekitarnya? Ada banyak pengalaman di penjuru nusantara yang menunggu untuk diarungi. Ada berjuta tanah di penjuru nusantara yang menunggu untuk dipijak.

Bukan Jakarta yang saya rindukan, tapi seseorang di sana…

Terakhir, saya diingatkan kembali, sebenarnya bukan Jakarta yang saya rindukan, meskipun di sana saya dilahirkan. Saya hanya merindukan seseorang disana, kawan-kawan seperjuangan saya yang masih di sana, dan tentunya kehangatan keluarga yang ada di sana. Terima kasih yah mel sudah diingatkan….

Yeah I’m still on my way to get to where you are…

Try to let go the things I knew…

We’ll forget Jakarta…

Promise that we’ll never look behind…

Tonight, we’re gone to where this journey ends…

Cerita ini diikutkan Giveaway Suka-suka Dunia Pagi

Perihal muamdisini
hanya manusia biasa yang mencoba menggapai mimpi dan melawan segala keterbatasan dengan segenap kemampuan yang dimilikinya

62 Responses to Forget Jakarta…

  1. Puteriamirillis mengatakan:

    semangat terus ya muam…

  2. Ping-balik: Detik-detik penutupan GA Suka-suka « Dunia Pagi

  3. The-Netwerk mengatakan:

    hanya ingin mengikuti postingan agan .
    postingan yang menarik dan menambah pengetahuan .
    nice gan .

    sempatkan mampir ke website kami

    http://www.the-netwerk.com

  4. kakaakin mengatakan:

    Dan penempatan itu membuat kita bertemu di salah satu sudut Samarinda :D
    Btw, yang pegawai Kota Samarinda sendiri banyak yang gak mau kalo ditempatkan di pojokan semacam tempat kerjaku. Padahal cuma dalam lingkup Samarinda loh… Lupa dengan “bersedia ditempatkan dimanapun”
    Semoga sukses pada giveawaynya amel ya :)

Sedikit komentar dari anda, sangat berarti bagi saya ....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: