ke Sengata atau Sangatta?

Maaf kawan, kembali lagi saya harus meninggalkan aktivitas yang berkaitan dengan blog dalam waktu yang cukup lama. Ingin sekali rasanya berkunjung ke tempat kawan-kawan semua, tapi ada rasa malu karena saya belum bisa menyaikan hidangan segar pada blog ini. Alhasil, saya hanya sanggup sesekali mengintip di tempat kalian. (^_^).Jalan Samarinda-Bontang kembali kulalui. Namun kali ini tujuannya bukan untuk wisata menikmati alam borneo, tujuan saya kali ini adalah ke Sengata, ibukota dari Kabupaten Kutai Timur. Selama sebulan penuh saya akan bertugas disana. Itulah alasan yang menyebabkan (lagi-lagi…) blog ini sampai terbengkalai…

Kali ini perjalanan Samarinda-Bontang yang sebelumnya pernah kulewati (bisa dilihat dalam postingan ini dan ini) kulalui dengan mata terpejam, mungkin akibat semalaman saya tidak tidur mengerjakan “PR” tugas kantor yang harus segera kuselesaikan sebelum berangkat bertugas lagi. Memasuki gerbang Taman Nasional Kutai mataku kembali terbuka, mungkin rasa kantuk ini telah terpuaskan.

Pertama kali membuka mata (setelah terlelap sepanjang perjalanan) yang terlihat hanyalah hijau, hijau, dan hijau. Rimbunan pohon dan luasnya semak belukar menghiasi pemandangan di kanan-kiri jalan. Di kejauhan terlihat pohon-pohon besar yang menjulang di antara rimbunan pohon lainnya. Memang, sebagian besar kawasan Kutai Timur ini terutama jalan menuju Sengata (ibukota kabupaten Kutai Timur) masih dipenuhi hutan.
30 hari penuh berada Sengata, saya jadi merasakan atmosfer Kota Pertambangan. Pagi-pagi, sekitar pukul 7.30 WiTA saat kami bersiap akan menjalani tugas, kami selalu berpapasan dengan bis-bis berukuran bis Transjakarta yang lalu lalang membawa para pekerja tambang. Helm dengan warna menyala, celana jeans dengan sepatu boots sudah cukup mengidentifikasi pekerjaan mereka.



Besarnya Dump Truck, c oba bandingkan dengan mobil di belakangnya


Memang Sengata dikenal sebagai Kota pertambangan. Didalamnya terdapat lokasi penambangan perusahaan batu bara yang cukup besar dan terkenal hingga ke mancanegara. Kota ini pun hidup berkat adanya tambang-tambang tersebut. Ratusan atau bahkan ribuan orang menggantungkan hidup dari aktivitas pertambangan.
Yah, saya pun kemudian membayangkan apa yang akan terjadi dengan kota kecil ini beberapa tahun ke depan. Sepuluh tahun, Lima puluh tahun, atau ratusan tahun kemudian,,, saat gompalan-gompalan emas hitam itu telah habis tergerus apakah kota kecil ini masih akan tetap berdiri? Bagaimana dengan nasib orang-orang dan keluarganya yang menggantungkan hidupnya dari aktivitas itu?
Mendung pun menggelayuti langit sepanjang perjalanan Sengata-Samarinda, kali ini kulalui tanpa mata terpejam. Sengaja saya buka jendela mobil “Nissan Navara” itu, dan kuhirup dalam-dalam udara disekitar Taman Nasional Kutai. Sengaja kunikmati segarnya udara itu sebelum ikut menghilang bersama sumber daya bumi lainnya. Entah apa yang akan terjadi dengan pohon-pohon itu sepuluh tahun, lima puluh tahun, atau ratusan kemudian? Apakah pohon-pohon itu masih tegak berdiri menantang langit?
Yang masih menjadi pertanyaan, sebenarnya penulisan Sengata itu yang benar seperti apa ya? karena sampai saat ini masih ada dua versi penulisan : Sangatta dan Sengata. Kawan-kawan ada yang tau? (^_^)…
***
Terima kasih untuk kakaakin dan mba deny atas kopdarnya kemarin..hehehe… jadi semangat posting lagi nih..

 

About these ads

Perihal muamdisini
hanya manusia biasa yang mencoba menggapai mimpi dan melawan segala keterbatasan dengan segenap kemampuan yang dimilikinya

30 Tanggapan untuk ke Sengata atau Sangatta?

  1. muam_disini mengatakan:

    >kangmas ian: wahaha..saya tidak bekerja di pertambangan kok mas..itu hanya sedang berkunjung ke wilayah pertambangan saja, soalnya yang terkenal di kawasan tersebut ya pertambangannya…

  2. adi.m mengatakan:

    ya setidaknya, perusahaan swasta ini tidak separah bumn yg setelah jelas menghabisis minyak lalu ditinggal menjadi benar-benar kota MATI hhe

  3. edratna mengatakan:

    Serasa ikut menikmati perjalanannya…dan foto-foto yang menarik

  4. kangmas ian mengatakan:

    keren mas pekerjaannya ^^ tapi kayanya lingkup gerak terbatas kalao kerja di pertambangan :D salam kenal

  5. muam_disini mengatakan:

    iya shavaat..emang ada yah hardisk merek itu?hehehe…ane gak keperusahaan itu, sekarang udah kembali ke Samarinda…

  6. muam_disini mengatakan:

    >orange Float: gpp kok mba, kan saya cuma ingin berbagi cerita aja kok..hehehehe,..>elmoudy: hehe iya, waktu saya liat, hal pertama terbersit dalam pikiran saya adalah, bagaimana ya menganggkut truk segede gitu ke dalam gunung, atau lebuh tepatnya caerukan raksasa..hehehe

  7. shavaat mengatakan:

    kalau di peta2, sering ditulis sangatta, bukan? kayak merek hardisk ya. hehehe.ada tetangga ane di kampung yang kerja di sana, am. di KP*. salamin ya, kalau ketemu.kalau melihat cerukan besar gitu jadi miris ya. benar ga sih, apa yang diperoleh sebanding dan dinikmati rakyat banyak, dibandingkan dengan kerusakan yang terjadi?

Sedikit komentar dari anda, sangat berarti bagi saya ....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: